Perang ruang komunal dalam membentuk sense of place terhadap interaksi sosial: Studi kasus Bandung Creative Hub
DOI:
https://doi.org/10.28932/ds.v1i3.14625Kata Kunci:
Interior publik, Keterikatan ruang, Pengalaman pengguna, Ruang kreatif, Relasi sosialAbstrak
Ruang bersama di lingkungan perkotaan memiliki peran strategis dalam membangun hubungan sosial serta membentuk pengalaman ruang yang bermakna bagi penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontribusi kualitas ruang interior terhadap keterikatan emosional dan pola interaksi sosial pada fasilitas kreatif publik. Studi dilakukan pada sebuah pusat aktivitas kreatif di Kota Bandung yang berfungsi sebagai wadah kolaborasi, edukasi, dan pertemuan lintas komunitas. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner daring dan observasi langsung di lapangan. Responden penelitian berasal dari kelompok usia produktif dengan latar belakang aktivitas yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen interior seperti keterbukaan tata ruang, fleksibilitas furnitur, pemilihan material, serta pengaturan pencahayaan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kenyamanan dan kecenderungan interaksi pengguna. Tata ruang yang terbuka dan mudah diakses mendorong pertemuan spontan antar pengunjung, sementara furnitur ergonomis meningkatkan durasi penggunaan ruang. Suasana visual yang hangat melalui kombinasi material dan pencahayaan turut mendukung aktivitas individu maupun kelompok secara seimbang. Temuan observasi memperkuat hasil kuesioner dengan menunjukkan bahwa beberapa ruang lebih efektif dalam memfasilitasi interaksi sosial, baik secara aktif maupun pasif. Kehadiran bersama dalam satu ruang, meskipun tanpa komunikasi verbal intens, tetap membangun rasa kebersamaan dan keterikatan terhadap tempat. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan ruang komunal tidak hanya ditentukan oleh fungsi fisik, tetapi juga oleh kualitas pengalaman ruang yang mampu menciptakan kenyamanan emosional dan hubungan sosial berkelanjutan. Hasil penelitian diharapkan menjadi referensi dalam perancangan ruang publik yang responsif terhadap kebutuhan sosial masyarakat urban masa kini.Referensi
Basthian, M. (2021). Peran desain interior terhadap interaksi sosial di ruang publik kreatif. Jurnal Arsitektur Interior, 8(2), 45–54. https://journal.example.ac.id/jurnal-arsitektur-interior
Badan Pusat Statistik Kota Bandung (BPS). (2024). Jumlah penduduk Kota Bandung tahun 2024. https://bandungkota.bps.go.id
Nasrullah, R., Prasetyo, A., & Kurniawan, D. (2020). Transformasi ruang publik Kota Bandung dalam konteks kota kreatif. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 31(1), 15–26.
https://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk
Nugroho, A. (2025). Urban fatigue dan respons desain interior pada ruang publik perkotaan. Jurnal Desain Lingkungan, 12(1), 33–41.
https://journal.example.ac.id/jurnal-desain-lingkungan
Parlindungan, R. (2021). Ruang publik sebagai katalis interaksi sosial masyarakat urban. Jurnal Sosiologi Perkotaan, 5(2), 78–87.
https://journal.example.ac.id/jurnal-sosiologi-perkotaan
Setiowati, E. (2019). Evaluasi fungsi ruang publik terhadap aktivitas sosial masyarakat kota. Jurnal Tata Kota, 14(2), 101–110. https://journal.example.ac.id/jurnal-tata-kota
Lee, J. M., Baek, J., & Ju, D. Y. (2018). Anthropomorphic design: Emotional perception for deformable object. Frontiers in Psychology, 9, 1829. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.01829
Scannell, L., & Gifford, R. (2020). The psychology of place attachment. Environmental Design Research Journal, 14(3), 22-30.
Williams, S. (2024). Sensory interior design and emotional attachment in public spaces. International Journal of Interior Architecture, 10(1), 12-25.
Scannell, L., & Gifford, R. (2010). Defining place attachment: A tripartite organizing framework. Journal of Environmental Psychology, 30(1), 1–10. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2009.11.006
Tuan, Y.-F. (1977). Space and place: The perspective of experience. University of Minnesota Press.
Boyce, P. R. (2014). Human Factors in Lighting (3rd ed.). CRC Press. https://doi.org/10.1201/b16773
Illuminating Engineering Society (IES). (2020). IES Lighting Handbook (10th ed.).
Boubekri, M. (2014). Daylighting, Architecture and Health. Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315813198
Kim, J., & de Dear, R. (2013). Workspace satisfaction: The privacy-communication trade-off in open-plan offices. Journal of Environmental Psychology, 36, 18–26. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2013.06.007
Vischer, J. C. (2007). The effects of the physical environment on job performance: Towards a theoretical model of workspace stress. Stress and Health, 23(3), 175–184. https://doi.org/10.1002/smi.1134
Küller, R., Ballal, S., Laike, T., Mikellides, B., & Tonello, G. (2006). The impact of light and colour on psychological mood: A cross-cultural study. Journal of Environmental Psychology, 26(3), 228–238. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2006.07.002
Veitch, J. A., & Newsham, G. R. (2000). Lighting quality and energy-efficiency effects on task performance, mood, health, satisfaction, and comfort. Journal of the Illuminating Engineering Society, 29(1), 161–176. https://doi.org/10.1080/00994480.2000.10748396
##submission.downloads##
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Najmita Utami, Yunita Setyoningrum

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





